Minggu, 01 Agustus 2010

NANGKRING DI ATAP, ASBES JEBOL

Beberapa cerita kali ini adalah tentang kehidupan makhluk2 SATPAM (SAHABAT IPA 6) thn 2009/2010 yang serba amburadul. Diriku menyisipkan cerita yg dibuat bersama braderr-sisterr SATPAM ini dengan maksud kami ingin berbagi cerita dengan braderrr-sisterrr yg lain (termasuk yg ga mau bayar buken Smaga 2010 ato gak punya buken Smaga 2010 yg konon katanya keren dewe sak SOLO mbuh bener mbuh ora ato bukan alumni Smaga). Yang jelas, jangan meniru hal2 yg tidak baik dari kami. Tirulah hal2 yang baik saja. Selamat menikmati…..

Ruangan itu berada di samping Lab. IPS, ruang kelas paling luas dengan jendela paling lebar itu hingga tahun ajaran 2008/2009 dihuni oleh anak-anak XI IA 6 yang konon katanya identik dengan kegaduhan secara turun-temurun (termasuk kami).

Setahun yang lalu di pagi menjelang siang yang panas ketika para siswa ditugaskan untuk membersihkan rumah masing-masing (rumah di sekolah maksudnya) dalam rangka mengikuti lomba kelas yang diadakan setiap tahunnya, kegerahan melanda anak-anak kelas XI IA 6. Meski Jendela telah terbuka lebar, namun angin sepertinya enggan masuk ke dalam ruangan.


Tragedi Asbes...

Sepertinya atap ruang Kepala Sekolah yang terbuat dari asbes itu (selanjutnya kita sebut asbes saja) merupakan salah satu tempat nongkrong yang asyik bagi anak cowok kelas XI IA 6. Apalagi saat cuaca panas, lingkungan di sekitar asbes memiliki angin sepoi-sepoi yang menyejukkan tubuh.

Hari itu benar-benar panas sehingga membuat Dika si Purwantoro memutuskan untuk duduk di asbes, tapi tak lama kemudian ia pun kembali ke kelas.

Beberapa menit kemudian, Galan, Pandhu, Rio, dan Teponk (nama asli : Ganang) duduk di atas asbes sambil ngobrol dan bermain hape. Kalo sudah begitu biasanya mereka akan duduk-duduk di samping atau di sudut jendela, tapi berbeda dengan kaum cowok yang tak tanggung-tanggung duduk di atas atap ruang Kepala Sekolah yang berada di sebelah luar jendela. Gimana caranya tuh? Mudah saja, tinggal melompati jendela, kita sudah bias duduk di atas atap dan menikmati angin sepoi-sepoi serasa sedang di Puncak Bogor, wakakaka…

“Kuat enggak kalo aku disitu?” tanya Aki yang ingin ikut duduk di atas asbes.

“Asal enggak pecicilan aja,” jawab Pandhu santai.

Lalu Aki ikut bergabung bersama mereka, tapi tangan Aki terlalu kuat menumpu asbes sehingga membuat asbes itu menjadi remuk.

Spontan Teponk melempar hape Pandhu yang ia mainkan tadi, tapi meleset. Hape itu justru terjatuh ke dalam lubang asbes.

Semua orang yang berada di dalam kelas dan mendengar suara asbes ketika remuk hanya bias terdiam karena heran, kecuali Andhika dan Bintang yang justru tertawa ngekek melihat kejadian itu.

Satu per satu dengan sangat hati-hati, dimulai dari Galan, Aki, Teponk, dan Rio berjalan untuk kembali ke dalam kelas, sedangkan Pandhu masih berusaha mengambil hapenya yang terperosok sampai ke langit-langit WC ruang Kepala Sekolah.

Benar-benar naas, saat mereka melihat asbes itu ternyata sudah berlubang di tempat dimana mereka duduk. Mereka membayangkan saat-saat dimana asbes itu remuk. Saat dimana mereka menghadapi ketakutan terbesar mereka. Semua terasa berjalan begitu cepat, mulai dari retaknya asbes yang menjalar dari ujung ke ujung. Lalu saat mereka menghadapi “Life and Death Situation”, sampai akhirnya berhasil lolos dari kematian. Lepas dari mulut buaya, semakin ke mulut harimau.

Setelah berhasil lolos dari amukan asbes yang ganas, datanglah satpam beserta 2 orang guru yang bertujuan untuk menyidik TKP. Ternyata para pelaku kejahatan sudah kabur ke urinoir dan Pandhu pun diganyang ke ruang Kepala Sekolah untuk diinterogasi dan diminta pertanggungjawaban. Setelah Pandhu ditunjukkan tentang kondisi WC Kepala Sekolah yang sudah berantakan, Pandhu dibawa ke ruang BK bersama Teponk. Disana Pandhu dimintai pertanggungjawaban untuk membayar Rp 500.000,00. Namun Pandhu menolak. Ia bilang itu terlalu mahal, ia minta keringanan. Kemudian Pandhu dan Teponk diminta untuk kembali ke kelas. Lalu setelah beberapa hari, Pak Ikhsan memanggil mereka lagi dan mengatakan kalau ada kemungkinan untuk mereka untuk diberi bantuan olleh sekolah Rp 250.000,00 dan masing-masing tersangka diminta membayar Rp 50.000,00.

Setelah mengumpulkan uang, Pandhu dan para tersangka memberikan uang itu pada Pak Ikhsan. Lalu Pak Ikhsan pun membuat surat pernyataan agar Pandhu dan para tersangka lainnya tidak membuat onar lagi. Semua masalah ini pun berakhir damai dengan ditandatanganinya surat perjanjian antara Pak Ikhsan dengan Pandhu.

Cerita kali ini memberikan pelajaran pada kita untuk lebih berhati-hati terutama pada asbes yg ada di atas WC Kepsek SMAGA... hahaha..


-SATPAM (SAHABAT IPA 6) SMAGA 2009/2010-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar